* Hai saudara-saudaraku, pernahkah kalian sedikit saja memberi perhatian lebih pada ayahmu?
* Pernahkah kalian melihat senyumnya dan tatapan matanya yang begitu gemilang?
* Pernahkah kalian merenungkan perasaan di balik senyum dan tatapan Ayah?
* Maka pandanglah Ayah, posisikan diri kalian layaknya seorang Ayah
* Rasakan betapa bahagianya seorang Ayah melihat anak-anaknya bertumbuh dari bayi hingga dewasa
* Pernahkah kalian berpikir betapa hebatnya seorang ayah berjuang untuk mencari sekepak uang?
* Apa tujuannya dengan sekepak uang tersebut?
* Meski Ayah ingin dipuji karena kehebatannya dan keberhasilannya mencari nafkah, namun Ayah tetap hanya bisa berbagi uang kepada anak-anaknya tanpa berkata "Lihatlah Ayah sangat hebat sudah berhasil mencari uang sebanyak ini"
* Ayah hanya menyimpan kebanggaannya seorang diri tanpa meminta pujian dari kalian anak-anaknya
* Ayah tak pernah menghiraukan perasaan apa yang ada di hati anak-anaknya terhadap Ayahnya sendiri
* Ayah hanya dapat bersedih dan menyimpan kesedihannya seorang diri saat melihat tingkah anak-anaknya yang begitu tidak pedulian terhadap usaha Ayah
* Anak yang tidak mengerti akan menghamburkan usaha Ayah, membuang semua tetes keringat Ayah
* Pernahkah berpikir saat bekerja untuk kalian, Ayah jatuh sakit dan tak dapat bekerja lagi?
* Pernahkah kalian berpikir tentang perasaan Ayah ketika ia gagal mencari uang?
* Sedih, gelisah, takut, berusaha tegar, menahan malu, namun Ia tetap sabar.
Teman-temanku, setelah merenungkan sepatah dua kata dariku ini, maka berusahalah kalian lebih menghormati seorang Ayah karena kalian belum tentu dapat berdiri tegak seperti Ayah dengan semua tanggungjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar